Menu
Blog My Account

You have no items in your shopping cart.

Care Center 021-29022090

You have no items in your shopping cart.

Mengatasi Kebiasaan Berteriak Anak

Tuesday, November 12, 2013 3:05:53 AM Asia/Bangkok

Perilaku anak selalu berbeda-beda. Ada saja yang membuat mereka bersikap seperti malu, pendiam, cuek, penakut dan bahkan suka berteriak. Perilaku yang terakhir sepertinya merupakan kebiasaan yang paling sulit diatur apalagi dihilangkan. Orang tua seringkali merasa kesal jika si kecil terlalu aktif dan suka berteriak. Perilaku yang sulit untuk dikendalikan ini biasanya dipicu karena buah hati tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Selain itu, berteriak merupakan emosi perasaan mereka ketika marah dan juga kecewa. Kelakuan anak yang suka berteriak tidak boleh diabaikan karena akan semakin memperburuk sikap mereka. Teriakan mereka juga menandakan bahwa si kecil tidak memiliki komunikasi yang baik dengan orang tua. Merespons teriakan si kecil pun tentu bukan dengan balik meneriakinya. Para ahli mengemukakan orang tua yang terbiasa berbicara dengan nada yang halus akan dengan otomatis memiliki anak yang bertutur kata halus pula.

 

Bicarakan pada buah hati bahwa Anda hanya akan mendengar perkataannya jika dengan cara baik dan sopan. Anak-anak harus datang pada Anda dengan jarak yang menurutnya cukup sehingga tidak perlu berteriak. Gunakan juga ‘kursi duduk’ sebagai hukuman tanpa harus berteriak atau memukulnya. Setiap kali si kecil membentak, posisikan ia pada kursi tersebut dan buat ia berbicara dengan baik-baik tentang apa yang ia inginkan. Langkah ini membutuhkan latihan berkali-kali sebelum akhirnya berhasil. Orang tua kadang berpikir dengan memukul atau menampar bisa menghentikan perilaku ini. Ya, memang pukulan kasar orang tua akan membuat si kecil diam, tapi sebentar saja. Ia akan terus melakukannya sambil menyimpan perasaan mangkel atau bahkan dendam di dalam hatinya. Dengan memukul si kecil, proses perbaikan kelakuan akan semakin sulit untuk dilakukan. Tamparan yang diberikan orang tua akan menyebabkan efek buruk pada anak seperti rasa dendam, sikap tidak puas, rasa sakit pada badan, perilaku kasar pada hewan peliharaan, kasar terhadap lawan jenis/pasangan di masa depan, sifat penakut dan pemukulan pada orang tua sebagai pembalasan. Mengerikan, bukan?

 

Katakan juga pada buah hati bahwa Anda tidak mengerti ‘bahasa teriakan’. Memohonlah sesekali kepadanya untuk berkata-kata halus. Memohon bukan berarti Anda berada di bawah kuasa si kecil, namun merupakan tanda bahwa Anda ingin sekali mengerti keinginannya apalagi jika diutarakan dengan cara yang sopan. Minta si kecil menggunakan ‘kata-kata’ bukan tone suara yang mengganggu tersebut. Jika berteriak merupakan sifat si kecil, buatlah peraturan bahwa berteriak boleh dilakukan di tempat-tempat khusus seperti taman dan tempat bermain. Sifat tentu bisa diubah jika orang tua memberikan contoh dan mengomunikasikan bagaimana cara berperilaku yang baik. Bagaimanapun juga, apa yang dilakukan orang tua dapat menjadi bumerang yang suatu saat kembali kepada Anda. Jadilah contoh yang baik, maka buah hati juga akan berkelakuan seperti yang Anda harapkan.

This entry was posted in Anak and tagged

Share this article on

Leave A Response

You must be logged in to post a comment.

click here to log in